Synopsis
Berbeda dengan tawuran biasanya yang terjadi antarsekolah. Gue dan teman-teman harus bersikap menghadapi tawuran dengan warga sekitar. Seperti suatu siang ketika kami pulang sekolah: “ndil, musuh ndil!� seru baim tiba-tiba “aman, im?� tanya gue “wol!!! Catooe..doeeaaa...tigaaa....ciyyaaaaaa!� Suara warga yang bersiap menyerang sudah terdengar. Kami diserang. Kami gak sempat lari apalagi bikin pecut dari sarung “im, keluarin jurus andalan lo! Kalau gak kita bisa mampus nih.� Gue menyuruh baim. “bantai aja udah, gue gak bawa choki-choki.�jawab baim “terus, pakai tangan aja nih?� tanya gue memastikan apa yang harus kami lakukan “BNTAI! Maju, ndil..� ucap baim dengan penuh semangat Baim berlari sendirian menghadapi amuk massa. Dia dikeroyok.. Gue hanya bisa diam. Gue juga takut. “im, gue bantu doaa aja yaaa.� Gue mengucap pelan. Pertarungan berjalan dengan tidak seimbang. Gue lihat si baim ngejitakin musuh satu per satu, sambil ketawa-tawa. Maklum, warga sekitar yang jadi lawannya adalah sekumpulan bocah berusia antara 5-10 tahun. Makanya gue malas bantuin. Kalau ada yang bilang masa SMA adalah masa paling indah, gue yang akan duluan angkat tangan. Gak ada yang pernah nyangka kalau gue harus sekelas tiga tahun berturut-turut dengan mahluk-mahluk aneh dan mengalami petualangan seru. Mulai dari bolos kelas bareng-bareng, pergi ke Dufan pertama kali, petualangan cinta yang gak pernah berhasil, sampai belajar kehilangan sahabat. Ini adalah cerita gue, si anak putih abu-abu. Dan percayalah, kami bukan alay.
Details
| ISBN: | 9786022200345 |
| Author: | Ryandi Rachman |
| Language: | INDONESIA |
| Date Published: | 2012 |
| Type: | SOFT COVER |
| No. of Pages: | 232 |
| Dimensions (cm): | 13 x 19 |
Comments
|
|
|